Senin, 14 Maret 2011

ALPUKAT
Manfaat buah alpukat bagi kesehatan tubuh kita :
  • Sumber vitamin E dan B
  • Mengobati maag
  • Menurunkan kolesterol darah
  • Melembabkan kulit
  • Membantu regenerasi darah merah
  • Mencegah anemia
  • Mencegah konstipasi
  • Mencegah malnutrisi
  • Sumber kandungan lemak tak jenuh
APEL
  • Mengurangi risiko stroke
  • Menurunkan kadar kolestrol darah
  • Meningkatkan kolestrol baik (hdl)
  • Alternatif makanan berenergi bagi pelaku diet dan mengontrol penyakit kencing manis
  • Mengurangi risiko serangan jantung
  • Membersihkan gigi
(Perlu diperhatikan bahwa apel yang sudah diolah biasanya struktur seratnya sudah rusak, sehingga, jika untuk keperluan kesehatan / pengobatan, sebaiknya mengkonsumsi apel yang segar, bukan olahan).

ANGGUR
  • Mencegah penuaan dini
  • Menyehatkan gusi dan mulut (anti sariawan)
  • Mengandung aktioksidan yang dapat menjaga imunitas tubuh
  • Selain dagingnya, biji buah anggur berkhasiat untuk kelenturan pembuluh darah
  • Sedangkan kulitnya kaya akan zat flavonoid yang berfungsi antioksidan
  • Mencegah kanker colon atau kanker usus besar karena kandungan antioksidan dan serat yang tinggi
DELIMA MERAH
  • Jus delima merah, apabila digunakan untuk berkumur terlebih dahulu sebelum diminum, dapat membantu membersihkan mulut dan gigi, serta mencegah infeksi sehingga membantu  menghilangkan bau mulut tak sedap
  • Memakan dengan perlahan-lahan buah delima merah dan mengeluarkan bijinya dapat menjernihkan suara yang serak dan menghindarkan dari kekeringan tenggorokan
  • Dapat membius cacing gelang, cacing kremi, dan cacing puta dalam usus, sehingga mereka dapat ikut keluar melalui feses pada saat buang air besar

BELIMBING MANIS
  • Sebagai antipiretik dan ekspektoran, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi batuk pada anak-anak
  • Buahnya yang mengandung banyak vitamin C memiliki manfaat sebagai antiinflasi, analgesik, dan diuretik, sehingga baik untuk penyembuhan batuk, sariawan, sakit tenggorokan, mengatasi demam, hingga mengatasi masalah kencing manis, dan kolesterol
  • Kandungan vitamin C-nya yang tinggi juga baik untuk dikonsumsi penderita penyakit kanker
  • Akar belimbing manis juga berkhasiat untuk menyembuhkan sakit kepala dan nyeri persendian
  • Daunnya dapat digunakan untuk mengatasi radang lambung, radang kulit bernanah, dan bisul
(Meski banyak memberi manfaat, bagi penderita penyakit ginjal harus berhati-hati dengan buah ini karena belimbing manis mengandung banyak asam oxalic yang berbahaya bagi mereka).

PLUM
  • Membantu menurunkan resiko kanker usus
  • Melindungi tubuh dari serangan jantung
  • Menurunkan kadar kolestrol
  • Mengurangi risiko ostheoporosis




MANGGA
  • Memperlancar saluran pencernaan
  • Sebagai anti oksidan dan anti kanker
  • Menurunkan panas tubuh


MARKISA

  • Mengobati panas dalam
  • Menghilangkan racun dalam tubuh
  • Membantu sistem kekebalan tubuh



TOMAT
  • Membersihkan darah dan hati
  • Mencegah usus buntu
  • Membantu menurunkan resiko gangguan jantung
  • Menghilangkan kelelahan dan menambah nafsu makan.
  • Menghambat pertumbuhan sel kanker pada prostate, leher rahim, payudara dan endometrium.
  • Memperlambat penurunan fungsi mata karena pengaruh usia (age-related macular degeneration)
  • Membantu menjaga kesehatan organ hati, ginjal, dan mencegah kesulitan buang air besar
  • Menghilangkan jerawat
  • Mengobati diare
  • Memulihkan fungsi lever
  • Mengatasi kegemukan

JAMBU BIJI
  • Memperlancar pencernaan
  • Mengobati demam berdarah
  • Sebagai anti oksidan dan anti kanker




MELON
  • Menurunkan risiko jantung
  • Mencegah penggumpalan darah
  • Menurunkan panas tubuh yang berlebihan


SIRSAK
  • Mengobati asam urat
  • Meningkatkan nafsu makan
  • Membantu pengobatan batu empedu








STROBERI
  • Sebagai anti virus dan anti oksidan
  • Mengobati gangguan saluran kemih




( dari : berbagai sumber )

MAKANAN IBU

     Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Murdijati  Gardjito, makanan tidak hanya terkait dengan masalah perut, tetapi terutama budaya.
     "Makanan terkait perilaku dan gaya hidup. Kalau makanannya berubah, perilakunya juga berubah sesuai lingkungan yang dominan," tegas Murdijati.
     Rangkaian pekerjaan di dapur antara orang yang memakan jagung, nasi, dan ubi saja sudah berbeda. Cara memasak juga berbeda. Semua itu membentuk budaya masak yang khas, yang membedakan antara budaya masak bertungku dan budaya masak memakai kompor, gas, serta listrik.
Sumber : www.google.com
    Hasil beberapa jenis masakan ibu memiliki makna filosofi khusus yang diperlukan dalam beberapa ritual. Tumpeng misalnya, bagian puncaknya menyimbolkan hubungan manusia dengan Tuhan, sayuran di sekeliling tumpeng menggambarkan banyaknya masalah di dunia, kacang panjang menyimbolkan usia panjang, kangkung menggambarkan lika-liku hidup.
     Pada beberapa keluarga, tata cara makan urut awu, artinya berurutan mulai dari ayah, lalu ibu, anak paling tua, hingga akhirnya anak paling muda. Terlepas dari asumsi budaya patriarkal, tata cara makan itu, menurut Murdijati, mengajarkan toleransi dan tenggang rasa sejak di meja makan. Orang diajarkan sabar, mau memikirkan kepentingan orang lain, dan tidak main serobot.
     Kini generasi sekarang tidak tahu lagi aspek budaya pada makanan ibunya. Mereka tidak lagi merasakan kebersamaan ibu dan ayah mereka di dapur sebab ayah dan ibu sibuk bekerja, tak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Tidak ada lagi yang menanamkan kebajikan seperti toleransi, tenggang rasa, dan kebersamaan di meja makan, yang menjadi cermin hal serupa di dalam masyarakat.
     Pemodal besar yang membaca perubahan gaya hidup di dalam rumah kemudian menawarkan makanan instan/cepat saji. Dengan iklan yang gencar dengan "busana" lebih mentereng, modern, berkelas sehingga menyilaukan mata, dan dicitrakan praktis, makanan instan/cepat saji menjadi pilihan konsumen. Makanan ibu pun makin terlupakan.
     Ketika makanan tradisional hilang, komoditas yang menunjangnya pun terabaikan. Murdijati memberikan contoh, 14 dari 24 jenis umbi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang punah karena tidak ada yang mengkonsumsi dan mengembangkannya. Ketika beras melimpah, semua orang dari Sabang sampai Merauke mengonsumsi beras, termasuk yang sebelumnya makan ubi, singkong, dan sagu. "Apalagi orang yang makan nasi dianggap status sosialnya tinggi".
     Bayang-bayang krisis pangan didengungkan orang hampir setiap hari. Namun, menurut Murdiyati, tingkat ketersediaan pangan kita sebenarnya cukup dan bervariasi, asal tidak terpaku hanya mengonsumsi beras. Murdiyati pun berpendapat, jika serius ingin menjaga ketahanan pangan, Pemerintah harus segera mendata makanan ibu dan komoditas penunjangnya. Setelah semua data dari seluruh Indonesia diintegrasikan, baru bisa dibuat strategi pangan berbasis kekayaan alam sendiri. Selain itu, perlu menanamkan kesadaran soal makanan agar masyarakat tidak mudah termakan iklan makanan instan dan cepat saji produksi kapitalis global, yang umumnya hanya memikirkan kepentingan bisnis. Murdijati menganjurkan  agar penyadaran soal makanan ditanamkan lagi lewat keluarga.

(Sumber : Kompas, 13 Maret 2011)