Senin, 14 Maret 2011

MAKANAN IBU

     Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Murdijati  Gardjito, makanan tidak hanya terkait dengan masalah perut, tetapi terutama budaya.
     "Makanan terkait perilaku dan gaya hidup. Kalau makanannya berubah, perilakunya juga berubah sesuai lingkungan yang dominan," tegas Murdijati.
     Rangkaian pekerjaan di dapur antara orang yang memakan jagung, nasi, dan ubi saja sudah berbeda. Cara memasak juga berbeda. Semua itu membentuk budaya masak yang khas, yang membedakan antara budaya masak bertungku dan budaya masak memakai kompor, gas, serta listrik.
Sumber : www.google.com
    Hasil beberapa jenis masakan ibu memiliki makna filosofi khusus yang diperlukan dalam beberapa ritual. Tumpeng misalnya, bagian puncaknya menyimbolkan hubungan manusia dengan Tuhan, sayuran di sekeliling tumpeng menggambarkan banyaknya masalah di dunia, kacang panjang menyimbolkan usia panjang, kangkung menggambarkan lika-liku hidup.
     Pada beberapa keluarga, tata cara makan urut awu, artinya berurutan mulai dari ayah, lalu ibu, anak paling tua, hingga akhirnya anak paling muda. Terlepas dari asumsi budaya patriarkal, tata cara makan itu, menurut Murdijati, mengajarkan toleransi dan tenggang rasa sejak di meja makan. Orang diajarkan sabar, mau memikirkan kepentingan orang lain, dan tidak main serobot.
     Kini generasi sekarang tidak tahu lagi aspek budaya pada makanan ibunya. Mereka tidak lagi merasakan kebersamaan ibu dan ayah mereka di dapur sebab ayah dan ibu sibuk bekerja, tak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Tidak ada lagi yang menanamkan kebajikan seperti toleransi, tenggang rasa, dan kebersamaan di meja makan, yang menjadi cermin hal serupa di dalam masyarakat.
     Pemodal besar yang membaca perubahan gaya hidup di dalam rumah kemudian menawarkan makanan instan/cepat saji. Dengan iklan yang gencar dengan "busana" lebih mentereng, modern, berkelas sehingga menyilaukan mata, dan dicitrakan praktis, makanan instan/cepat saji menjadi pilihan konsumen. Makanan ibu pun makin terlupakan.
     Ketika makanan tradisional hilang, komoditas yang menunjangnya pun terabaikan. Murdijati memberikan contoh, 14 dari 24 jenis umbi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang punah karena tidak ada yang mengkonsumsi dan mengembangkannya. Ketika beras melimpah, semua orang dari Sabang sampai Merauke mengonsumsi beras, termasuk yang sebelumnya makan ubi, singkong, dan sagu. "Apalagi orang yang makan nasi dianggap status sosialnya tinggi".
     Bayang-bayang krisis pangan didengungkan orang hampir setiap hari. Namun, menurut Murdiyati, tingkat ketersediaan pangan kita sebenarnya cukup dan bervariasi, asal tidak terpaku hanya mengonsumsi beras. Murdiyati pun berpendapat, jika serius ingin menjaga ketahanan pangan, Pemerintah harus segera mendata makanan ibu dan komoditas penunjangnya. Setelah semua data dari seluruh Indonesia diintegrasikan, baru bisa dibuat strategi pangan berbasis kekayaan alam sendiri. Selain itu, perlu menanamkan kesadaran soal makanan agar masyarakat tidak mudah termakan iklan makanan instan dan cepat saji produksi kapitalis global, yang umumnya hanya memikirkan kepentingan bisnis. Murdijati menganjurkan  agar penyadaran soal makanan ditanamkan lagi lewat keluarga.

(Sumber : Kompas, 13 Maret 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar